TAHSIN

tahsin sdit al afiyah

Oleh : *_Abu Hāzim Mochamad Teguh Azhar_*

Cukup lama sekali saya menunggu hasil Imtihan terakhir dari Ma’had. Setahun lebih dari hari ujian bukanlah waktu sedikit.

Sempat hampir kecewa memang. Karena perjuangan selama 5 tahun mengalahkan ego diri dan berkompetisi dgn ribuan orang itu sangat keras. Bayangkan, dari sekian banyak orang hanya 13 orang yg berhasil masuk kelas Gurunda Dr. KH. Saiful Islam Mubaarak., Lc., MA.

Namun, apalah arti mengetahui hasil itu, pikir saya. Toh semua ilmu yg didapat jauh lebih berharga dari selembar kertas yg tertulis nilai disana…
Maka Alhamdulillah Allah obati hati saya dan tak memikirkan itu lagi.

Beruntung saya disibukkan oleh hafalan Quran. Sehingga penantian itu tak begitu menyayat bagai sembilu.

Suatu hari, di waktu yg tak pernah terpikirkan sebelumnya akan bertemu sohib Ma’had di salah satu Mesjid di Bandung, saya bertemu dengannya.

“Keif hal, Akhiy?” tanyanya

“Bikhair walhamdulillah sayyidiy..”

“Antum kemana saja? Lebih dari setahun ana cari2 antum. Lebih dari setahun Ma’had dari antum!!!”

“Ana ada saja. Ya, masih seperti biasa kuliah di Al-Imarat. Emang kenapa antum dan Ma’had cari2 ana? Bukankah ujian sdh selesai? Ana juga insyaaAllah sdh tak ada tunggakan syahriyah..”

“Ya akhiy, emang antum belum tahu hasil ujian itu?”

“Belum.”

“Tahukah antum, Akhiy, antum dapat predikat *Mumtaz Murtafi’*! *Summa Cumlaude*!
Ust Cipto bilang, itu tertinggi se-Ma’had!”

“Antum jangan bercanda, Akh!”

“Serius! Ahsan antum lari ke Ma’had sana. Tanya sama mudir data tahun kemarin!”

“Kenapa Ma’had tak infokan itu? Ana tanya kesana pasja ujian semua bisu!”

“Itu sengaja, akhiy. Agar terjaga hati antum!”

_Allahu Akbar. Tak terasa ada butir air di sudut mata saya. Penantian itu memang menjengkelkan. Namun ia akan berakhir dgn keharuan. Langit biru kota Bandung, dinding Mesjid, dan sejuknya sore itu menjadi saksi…_

_Ternyata…_
Selama ini saya keliru menilai Ma’had.

_Ternyata…_
Tak selamanya penantian itu menyakitkan.

_Ternyata…_
Orang² sekeliling kita begitu mencintai kita dgn berbagai cara yg kadang tak kita fahami bahasa itu…

_Ternyata…_
Ilmu memang tak untuk dibangga²kan. Apalagi dilombakan dgn yg lainnya.

Begitu berharga sekali apa yg diajarkan Ma’had pada saya dgn kejadian itu. Semenjak saat itu saya benar² tak bergantung dengan hasil ujian, syahadah, ijazah, lisensi dan yang lainnya. Saya malah lebih fokus untuk terus meningkatkan lagi kapasitas dgn mengambil sanad dari para guru dan masyayikh.

Kini masa itu terus bergulir hingga hari ini. Saya cukup sedih jika melihat Tahsiner begitu Jumawa seakan ia telah menguasai seluruh ilmu Tajwid.

Atau ta’ashshub seakan metode jadi ghayah harga mati. Hingga yg berada di luar barisan, tentu pasti grade-nya dibawah mereka. Ini ketakabburan intelektual.

Bukankah kelak yg akan diseret mukanya hingga Jahannam adalah para Qari’ yg tidak ikhlash?

Saya khawatir. Jika kemampuan kita baca di atas rata². Jika metode kita banyak follower-nya. Jika muncul benih takabbur dgn ilmu yg kita miliki dgn meremehkan orang lain dan metode lain. Itu justru masuk kategori ujub dan ketidak-ikhlasan. Bukankah keduanya perusak terhebat amal shalih kita?

Saya sudah pelajari banyak metode, walhamdulillah. Mulai dari Metode Maqdis, Tartila, Al Bana, Al Barqiy, Wafa’, Itqan, Tamheed, Iqra’, Qiraati, dll sampai Metode Nurul Bayan dari Mesir dan Suriah. Namun saya menemukan banyak kesamaan, meskipun ada sedikit perbedaannya disana sini.

Saya masih memandang wajar perbedaan itu terjadi, dan masih menganggap semua metode itu bagus. Karena bagi kami, semua metode itu adalah jembatan untuk bacaan yg benar. Adapun bacaan yg paling benar, adalah bacaan yang sesuai riwayat yg shahih dari Rasulullah melalui jalur periwayatan para Qurra’ bersanad muttashil sampai Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wasallam…
Dan itu dilakukan dengan talaqqi langsung 30 Juz kepada seorang guru atau Syaikh yg memiliki sanad muttashil kepada Nabi صلى الله عليه وسلم

Sa’id bin Manshur meriwayatkan dari seorang sahabat, beliau mengatakan,

القرآن قراءة متبعة

“Quran itu pada dasarnya bacaannya diikuti.”

Ia diambil bacaannya dari para guru dgn sanad bersambung pada Rasulullah shallaLlaahu ‘alayhi wasallam. Dan metode2 yg ada itu jembatan mengarah kesana. Bukan untuk berhenti di metode. Sebab itu baru *jenjang pertama* untuk naik ke jenjang berikutnya, mencari periwayatan tertinggi.

Jadi keliru jika baru selesai satu metode kemudian dgn mudah menilai bacaan orang lain dgn metode yg lain. Sebab metode2 yg ada memang pasti ada kekurangan masing2 yg kekurangan tersebut adakalanya tidak dimiliki di metode A tapi dimiliki metode B. Dan sebaliknya ada kesalahan yg hanya ada di metode B tapi tak ada di metode A.

Maka mari saling merangkul dan bukan mendiskriminasi. Mari saling bergandeng tangan mewujudkan cita² bersama agar Quran ini ada di hati seluruh manusia. Mari saling mendukung dan saling men-Tazkiyyah.. Karena sejatinya kita tak layak mentazkiyyah diri sendiri atau apa yg kita mampu, karena yg lebih mengetahui hakikatnya hanyalah Allah ‘Azza wa Jalla..

Allah berfirman:

ۚ فَلَا تُزَكُّوْۤا اَنْفُسَكُمْ ۗ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰى
“…Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa.”
(QS. An-Najm 53: Ayat 32)

Kita akan ditanya tentang niat-niat, bukan tentang diri kita yg hebat…

 

sumber : https://muqrifaqih. blogspot. com/2018/11/tahsin.html