Hukum Tepuk Pundak Ketika Hendak Bermakmum

Penanya :
Ustadz, kebiasaan sebagian besar masyarakat kita suka menepuk pundak ketika hendak bermakmum pada seorang munfarid, apakah itu dibenarkan?

Jawaban :
Menepuk pundak bukanlah cara yang tepat untuk bermakmum, karena tidak ada dalam fiqih shalat. Tidak ada dalil dari Quran maupun Sunnah terkait itu. Maka seseorang jika hendak bermakmum pada yang lainnya tinggal berdiri di samping Imam dan memulai shalatnya.

Yang jadi permasalahan adalah bagaimana pandangan para ulama terkait  perubahan niat yang terjadi pada seseorang yang tadinya munfarid kemudian “mendadak” menjadi Imam.

Baik, kita coba rincikan.

Menurut Hanafiyah dan Hanabilah, hal demikian tidak dibolehkan. Berubah niat di tengah shalat tidak dibolehkan menurut keduanya. Niat berjama’ah haruslah dari awal.

Menurut Syafi’iyyah dan Malikiyah tidak mengapa berubah niat di tengah.

Untuk Imam Mesjid yang sudah rutin mengimami di Mesjid tersebut maka tidak mengapa ia pada awalnya shalat sendirian kemudian ia berubah niat ketika makmum berdatangan shalat di belakangnya.

Dalam Shalat Sunnat (Nafilah) maka tidak mengapa bermakmum pada munfarid berdasarkan hadits dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

ﺑِﺖُّ ﻋِﻨْﺪَ ﺧَﺎﻟَﺘِﻲ ﻣَﻴْﻤُﻮﻧَﺔَ ﻓَﻘَﺎﻡَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﻣُﺘَﻄَﻮِّﻋًﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞ ﻓَﻘَﺎﻡَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﻘِﺮْﺑَﺔِ ﻓَﺘَﻮَﺿَّﺄَ ﻓَﻘَﺎﻡَ ﻓَﺼَﻠَّﻰ ﻓَﻘُﻤْﺖُ ﻟَﻤَّﺎ ﺭَﺃَﻳْﺘُﻪُ ﺻَﻨَﻊَ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﺘَﻮَﺿَّﺄْﺕُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘِﺮْﺑَﺔِ ﺛُﻢَّ ﻗُﻤْﺖُ ﺇِﻟَﻰ ﺷِﻘِّﻪِ ﺍﻷْﻳْﺴَﺮِ ﻓَﺄَﺧَﺬَ ﺑِﻴَﺪِﻱ ﻣِﻦْ ﻭَﺭَﺍﺀِ ﻇَﻬْﺮِﻩِ ﻳَﻌْﺪِﻟُﻨِﻲ ﻛَﺬَﻟِﻚَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺸِّﻖِّ ﺍﻷْﻳْﻤَﻦِ
Aku menginap di rumah bibiku, Maimunah radhiyallahu ‘anha. Nabi ShallaLlahu ‘alayhi wasallam shalat (sunat) malam dan  berwudhu dari qirbah, berdiri dan memulai shalat. Aku pun bangun ketika melihat beliau ShallaLlahu ‘alayhi wasallam melakukannya, aku pun ikut berwudhu dari qirbah dan berdiri pada sisi kiri beliau ShallaLlahu ‘alayhi wasallam. Beliau ShallaLlahu ‘alayhi wasallam menarik tanganku dari balik punggungnya dan menggeserkan diriku agar pindah ke sisi kanan beliau.” (HR. Al Bukhariy)

Dengan hadits ini Hanabilah pun membolehkan terjadi perubahan niat pada munfarid menjadi berjama’ah pada shalat sunat, tidak pada shalat fardhu. Dan inilah pendapat yang tepat jika dilihat dari kaidah yang ada.

Wallahu Waliyyut Taufiiq

Muhibbukum,
Abu Hāzim Mochamad Teguh Azhar

Maraaji’ :
Al Mughniy
Majmu’ Syarh Muhadzdzab

Sumber :
http://muqrifaqih.blogspot. com/2018/12/hukum-tepuk-pundak-ketika-hendak.html