Cara Duduk Terakhir pada Shalat yang Memiliki 1 Tasyahud

Cara Duduk Terakhir pada Shalat yang Memiliki 1 Tasyahud

Penanya :
Ustadz mau tanya, Bagaimana cara duduk tahiyat akhir di shalat yang memiliki 2 rakaat saja (1 Tasyahud)?

Jawab :
Ada silang pendapat dalam hal ini. Yang paling masyhur adalah antaraSyafi’iyyah dengan Hanabilah.

Syafi’iyyah berpendapat bahwa duduk terakhir di shalat yang hanya punya 1 tasyahud adalah tawarruk, alias sama dengan yang memiliki 2 tasyahud. Mereka berdalil dengan keumuman hadits,

ﺭﻭﻯ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺣُﻤَﻴْﺪٍ ﺍﻟﺴَّﺎﻋِﺪِﻱُّ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻓﻲ ﺻﻔﺔ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ، ﻭﻓﻴﻪ : ‏( ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺟَﻠَﺲَ ﻓِﻲ ﺍﻟﺮَّﻛْﻌَﺔِ ﺍﻟْﺂﺧِﺮَﺓِ ﻗَﺪَّﻡَ ﺭِﺟْﻠَﻪُ ﺍﻟْﻴُﺴْﺮَﻯ ﻭَﻧَﺼَﺐَ ﺍﻟْﺄُﺧْﺮَﻯ ﻭَﻗَﻌَﺪَ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﻘْﻌَﺪَﺗِﻪِ ‏) .

Al Bukhariy meriwayatkan dari Abu Humaid As Sa’idiy -radhiyallahu ‘anhu- di sifat shalat Nabi -shallallahu ‘alayhi wasallam- dan di dalamnya : “Dan jika beliau duduk di rakaat terakhir, beliau memajukan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya, dan beliau duduk di atas bumi“.

Sementara Hanabilah berdalil dengan hadits Wail bin Hujr dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhuma yang menunjukkan bahwa pada asalnya duduk tasyahud itu adalah iftirasy. Sementara tawarruk itu tempatnya di shalat yang memiliki 2 tasyahud seperti Dzhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya. Ibnu Qudamah menjelaskan dalam Al Mughniy,

ﻭﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﻗﺪﺍﻣﺔ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ” ﺍﻟﻤﻐﻨﻰ ” ‏( 1/318 ‏) : ” ﺟَﻤِﻴﻊُ ﺟَﻠَﺴَﺎﺕِ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ ﻟَﺎ ﻳُﺘَﻮَﺭَّﻙُ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺇﻟَّﺎ ﻓِﻲ ﺗَﺸَﻬُّﺪٍ ﺛَﺎﻥٍ . ﻟﺤَﺪِﻳﺚُ ﻭَﺍﺋِﻞِ ﺑْﻦِ ﺣُﺠْﺮٍ ‏( ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟَﻤَّﺎ ﺟَﻠَﺲَ ﻟِﻠﺘَّﺸَﻬُّﺪِ ﺍﻓْﺘَﺮَﺵَ ﺭِﺟْﻠَﻪُ ﺍﻟْﻴُﺴْﺮَﻯ , ﻭَﻧَﺼَﺐَ ﺭِﺟْﻠَﻪُ ﺍﻟْﻴُﻤْﻨَﻰ ‏) . ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﻔَﺮِّﻕْ ﺑَﻴْﻦَ ﻣَﺎ ﻳُﺴَﻠِّﻢُ ﻓِﻴﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﻟَﺎ ﻳُﺴَﻠِّﻢُ . ﻭَﻗَﺎﻟَﺖْ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔُ : ‏( ﻛَﺎﻥَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﻓِﻲ ﻛُﻞِّ ﺭَﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﺍﻟﺘَّﺤِﻴَّﺔَ , ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻳَﻔْﺮِﺵُ ﺭِﺟْﻠَﻪُ ﺍﻟْﻴُﺴْﺮَﻯ ﻭَﻳَﻨْﺼِﺐُ ﺍﻟْﻴُﻤْﻨَﻰ ‏) ﺭَﻭَﺍﻩُ ﻣُﺴْﻠِﻢٌ . ﻭَﻫَﺬَﺍﻥِ ﻳَﻘْﻀِﻴَﺎﻥِ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﺗَﺸَﻬُّﺪٍ ﺑِﺎﻟِﺎﻓْﺘِﺮَﺍﺵِ..

Dan berkata Ibnu Qudamah -rahimahullah- dalam Al Mughniy : “Semua duduk dalam shalat tidak dengan ber-tawarruk kecuali pada yang memiliki 2 tasyahud. Berdasarkan hadits Wail bin Hujr (bahwasanya Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam ketika duduk untuk tasyahud adalah dengan cara iftirasy/menduduki kaki kiri, dan menegakkan kaki kanannya). Dan beliau tidak membedakan apakah beliau salam padanya atau tidak. Dan ‘Aisyah berkata : (adalah Rasul shallaLlahu ‘alayhi wasallam mengucapkan di tiap 2 raka’at tahiyyat, dan beliau menduduki kaki kiri dan menegakkan kaki kanan). Hadits Riwayat Muslim. Dan kedua hadits ini mewajibkan untuk tiap tasyahud itu dengan iftirasy.”

Maka kesimpulannya, pendapat yang kami kuatkan adalah bahwasanya untuk shalat yang memiliki 1 tasyahud saja semisal Shubuh, Witir, shalat sunat lainnya adalah dengan cara Iftirasy (duduk di atas kaki kiri). Sementara untuk shalat yang memiliki 2 tasyahud semisal Dzhuhur, Ashar, Maghrib, Isya, adalah dengan cara Tawarruk (duduk di atas bumi dan kaki kirinya dimajukan).

Wallahu A’lam

Muhibbukum,
Abu Hāzim Mochamad Teguh Azhar

Maraaji’ :
Al Mughniy, Ibnu Qudamah Al Hanbaliy

Majmu’ Syarh Muhadzdzab, Syarafuddin An Nawawiy Asy Syafi’iy

Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhariy, Ibnu Hajar Al Asqalaniy Asy Syafi’iy

Fatawa Lajnah Daimah

Sumber : https://muqrifaqih. blogspot. com/2018/12/cara-duduk-terakhir-pada-shalat-yang.html