Batalkah Wudhu Jika Menyentuh Kemaluan?

Batalkah Wudhu Jika Menyentuh Kemaluan

Penanya :
Ustadz, gimana hukumnya wudhu kita jika menyentuh kemaluan, batal atau tidak?

Jawaban :
Ulama berbeda pendapat mengenai ini;
1. Batal
2. Tidak
3. Batal jika dengan syahwat, dan tidak batal jika tanpa syahwat. Namun mustahab jika berwudhu lagi, sebagai bentuk ihtiyath (kehati-hatian).

Perbedaan pendapat terjadi dikarenakan ada dalil-dalil shahih yang “terkesan” bertentangan. Namun sebenarnya bisa di-jama’ kedua dalil tersebut.

Diantara dalil-dalil tersebut,

ﺣﺪﻳﺚ ﺑﺴﺮﺓ ﺑﻨﺖ ﺻﻔﻮﺍﻥ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ : ‏( ﻣﻦ ﻣﺲ ﺫﻛﺮﻩ ﻓﻠﻴﺘﻮﺿﺄ ‏) (رواه الخمسة)

Hadits Busrah binti Shafwan, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda : “Barangsiapa memegang kemaluannya maka hendaknya berwudhu” (HR. Al Khamsah)

Dalil ini sandaran Asy-Syafi’iy, satu Qaul dari Imam Ahmad, Malik, dan lainnya.

Dalil berikutnya,

ﺣﺪﻳﺚ ﻃﻠﻖ ﺑﻦ ﻋﻠﻲ ﺃﻧﻪ ﺳﺄﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻦ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻳﻤﺲ ﺫﻛﺮﻩ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ : ﺃﻋﻠﻴﻪ ﻭﺿﻮﺀ ؟ ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ‏( ﻻ ، ﺇﻧﻤﺎ ﻫﻮ ﺑﻀﻌﺔ ﻣﻨﻚ ‏) (رواه الأربعة وأحمد والدارقطني)

Hadits Thalq bin ‘Aliy bahwasnya ia bertanya pada Nabi ShallaLlahu ‘alayhi wasallam tentang seseorang yang menyentuh kemaluannya dalam shalat. Apakah wajib atasnya wudhu? Maka Nabi ShallaLlahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Tidak, karena itu bagian dari tubuhmu”. (HR. Arba’ah, Ahmad, dan Ad-Daraqutnhiy)

Dalil ini sandaran Ibnu Mas’ud, Hasan Al-Bashriy, Ats-Tsauriy, Abu Hanifah.

Sekilas dalil tersebut bertentangan. Yang satu menunjukkan batalnya wudhu, yang satu menunjukkan bahwa wudhu tidak batal.

Dalam hal ini sebagian ulama menjama’ (mengumpulkan dalil-dalil tersebut). Maka muncullah pendapat ketiga.

Mereka memandang, di dalamnya pasti ada ‘illat dan indikasi mengapa menjadi batal atau tidak. Diambillah kesimpulan bahwa ‘illat itu bernama syahwat.

Jika ketika menyentuhnya seseorang meningkat syahwatnya kemudian bahkan bisa berpotensi mengeluarkan sesuatu dari dzakarnya yang bisa membatalkan wudhu, maka dia batal. Namun jika sekedar menyentuh apalagi tidak sengaja, dan tanpa syahwat maka wudhu’nya tidak batal. Namun meskipun tak batal, disukai jika ia berwudhu lagi.
Ini pendapat berasal dari Malikiyyah, Ahmad, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan lainnya.

Dan pendapat yang saya cenderung padanya adalah pendapat ketiga. Alasannya adalah jika dalil tersebut masih bisa dijama’, maka jama’ didahulukan sebelum tarjih. Sebagaimana kaidah,

” ﺃﻥ ﺍﻹﻋﻤﺎﻝ ﺃﻭﻟﻰ ﻣﻦ ﺍﻹﻫﻤﺎﻝ” ؛ ﻷﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﺠَﻤْﻊِ ﺇﻋﻤﺎﻻً ﻟﻠﺪﻟﻴﻠَﻴﻦِ

Wallahu Waliyyut Taufiiq

Muhibbukum,
Abu Hāzim Mochamad Teguh Azhar

Maraji’ :
Kutubut Tis’ah
Maktabah Syamilah

 

Sumber : https://muqrifaqih. blogspot. com/2018/12/batalkah-wudhu-jika-menyentuh-kemaluan.html