ADAB LAGI

Oleh : *_Abu Hāzim Mochamad Teguh Azhar_*

ADAB LAGI

Saya pernah hadir di salah satu kajian di negeri antah barantah, di sebuah komunitas orang shalih insyaaAllah. Hanya saja satu waktu saya agak terkejut dibuatnya. Baru muqaddimah diucapkan sebagian besar mereka keluar barisan tanpa izin.

Tak faham saya dgn sikap mereka. Mungkin di satu waktu pengisi pernah “menjahati” mereka atau tidak waLlahu a’lam. Untungnya itu tak mencuri fokus saya untuk tetap ajeg duduk di kajian.

Hak mereka memang untuk “berpaling”. Entah dgn alasan syar’iy atau tidak, entah memang ada agenda lain atau tidak. Saya memang tak mau sibuk mencari tahu alasannya. Toh semua akan dihisab sebagaimana mestinya.

Namun yg saya heran. Tampilan mengaji, memang mestinya mencerminkan akhlaq orang mengaji. Jika tak demikian, ada yg salah dgn yg dikaji. Jika urusan adab yg terlihat remeh saja tak bisa difahami, ada yg kurang pada yg dikaji.

Sebab kalau kita merujuk pada para pendahulu yg shalih, mereka mengedepankan adab dulu sebelum ilmu. Agar jangan sampai muncul intelektual² muslim yg pintar berbicara namun tak memiliki akhlaq dan adab yg mulia..

ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻣَﻌَﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻣْﺮٍ ﺟَﺎﻣِﻊٍ ﻟَﻢْ ﻳَﺬْﻫَﺒُﻮﺍ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺴْﺘَﺄْﺫِﻧُﻮﻩُ ﺇِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺴْﺘَﺄْﺫِﻧُﻮﻧَﻚَ ﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺍﺳْﺘَﺄْﺫَﻧُﻮﻙَ ﻟِﺒَﻌْﺾِ ﺷَﺄْﻧِﻬِﻢْ ﻓَﺄْﺫَﻥْ ﻟِﻤَﻦْ ﺷِﺌْﺖَ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺍﺳْﺘَﻐْﻔِﺮْ ﻟَﻬُﻢُ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻏَﻔُﻮﺭٌ ﺭَﺣِﻴﻢٌ
“Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, *_mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya_*, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [QS. An-Nuur : 62].

Ibnu Katsiir rahimahullah berkata menjelaskan ayat di atas :

ﻭﻫﺬﺍ ﺃﻳﻀًﺎ ﺃﺩﺏ ﺃﺭﺷﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺒﺎﺩَﻩ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﺇﻟﻴﻪ، ﻓﻜﻤﺎ ﺃﻣﺮﻫﻢ ﺑﺎﻻﺳﺘﺌﺬﺍﻥ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺪﺧﻮﻝ، ﻛﺬﻟﻚ ﺃﻣﺮﻫﻢ ﺑﺎﻻﺳﺘﺌﺬﺍﻥ ﻋﻨﺪ ﺍﻻﻧﺼﺮﺍﻑ – ﻻ ﺳﻴﻤﺎ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻓﻲ ﺃﻣﺮ ﺟﺎﻣﻊ ﻣﻊ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ، ﺻﻠﻮﺍﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺳﻼﻣﻪ ﻋﻠﻴﻪ، ﻣﻦ ﺻﻼﺓ ﺟﻤﻌﺔ ﺃﻭ ﻋﻴﺪ ﺃﻭ ﺟﻤﺎﻋﺔ، ﺃﻭ ﺍﺟﺘﻤﺎﻉ ﻟﻤﺸﻮﺭﺓ ﻭﻧﺤﻮ ﺫﻟﻚ – ﺃﻣﺮﻫﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺃﻻ ﻳﻨﺼﺮﻓﻮﺍ ﻋﻨﻪ ﻭﺍﻟﺤﺎﻟﺔ ﻫﺬﻩ ﺇﻻ ﺑﻌﺪ ﺍﺳﺘﺌﺬﺍﻧﻪ ﻭﻣﺸﺎﻭﺭﺗﻪ . ﻭﺇﻥ ﻣﻦ ﻳﻔﻌﻞ ﺫﻟﻚ ﻓﻬﻮ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﺍﻟﻜﺎﻣﻠﻴﻦ .
ﺛﻢ ﺃﻣﺮ ﺭﺳﻮﻟﻪ – ﺻﻠﻮﺍﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺳﻼﻣﻪ ﻋﻠﻴﻪ – ﺇﺫﺍ ﺍﺳﺘﺄﺫﻧﻪ ﺃﺣﺪ ﻣﻨﻬﻢ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﺃﻥ ﻳﺄﺫﻥ ﻟﻪ، ﺇﻥ ﺷﺎﺀ؛ ﻭﻟﻬﺬﺍ ﻗﺎﻝ : } ﻓَﺄْﺫَﻥْ ﻟِﻤَﻦْ ﺷِﺌْﺖَ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺍﺳْﺘَﻐْﻔِﺮْ ﻟَﻬُﻢُ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻏَﻔُﻮﺭٌ ﺭَﺣِﻴﻢٌ { .

“Ini juga merupakan adab yang telah Allah ajarkan kepada hamba-Nya yang beriman kepada-Nya. Sebagaimana Allah perintahkan kepada mereka *untuk meminta izin ketika masuk, begitu juga Allah perintahkan mereka untuk meminta izin ketika meninggalkan tempat/kembali*. Khususnya jika mereka berkumpul bersama Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat Jum’at, shalat ‘Ied, shalat jama’ah, perkumpulan bermusyawarah, atau yang lainnya. Allah ta’ala
memerintahkan mereka untuk tidak meninggalkan majelis dalam kondisi seperti itu, kecuali setelah meminta izin dan bermusyawarah dengan beliau
shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Barangsiapa yang melakukannya, maka ia termasuk orang-orang yang sempurna keimanannya. Kemudian Allah memerintahkan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila ada seseorang di antara mereka meminta izin kepada beliau akan hal tersebut, agar mengizinkannya jika beliau menghendaki. Oleh karena itu, Allah ta’ala berfirman : ‘berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ” [ Tafsiir Ibni Katsiir , 6/88].

Adab bermajelis, misalkan. Jika memang tak cocok dgn pengisi maka tak usah hadir saja. Atau jika memang tak cocok dgn yg dikaji, ambil langkah yg sama. Tidak dengan nambah dosa “berpaling” setelah hadir.

Jika sudah kepalang tanggung hadir di majelis, terus ada keperluan, apa sulitnya mengangkat tangan untuk meminta izin keluar majelis? Meski tanpa berkata, cukup angkat tangan, itu sudah cukup sebagai isyarat minta izin. Apakah itu berat?

Sangat disayangkan, sekelompok yg “berpaling” itu tak melakukan itu. Kasarnya mereka tak beradab! Jujur saya malah merasa tak nyaman melihat sikap seperti itu. Apakah untuk sikap yg demikian mereka diajari di halaqah mereka?

Ini memang terlihat sederhana. Namun bagi mereka yg benar² mengagungkan ilmu, ini bukan perkara sederhana. Adab dalam majelis adalah bagian dari penjabaran ilmu itu sendiri, sekaligus penghormatan bagi ilmu dan ahli ilmu.

Belum lagi sikap sebagian pemuda-pemudi yg sedang semangat²nya mengkaji islam (baca: baru mengenal Islam) baru kenal alif-ba-ta-tsa saja sudah berani mendebat ahli ilmu. Apakah itu yg diajarkan di halaqahnya?

Yang didebat hanya senyam-senyum memperhatikan kejahilan mereka. Sebagian mereka hanya mengekus dada dan mengingat hadits Rasul bahwa salah satu tanda kiamat adalah diambilnya ilmu dari Ashāghir… Anak2 muda yg jahil dan tak beradab.

Bahasa Arab minim. Ushul fiqh mana faham. Tafsir Quran Juz ‘Amma saja tak tamat². Jangan tanya hafalannya, boro2 30 juz, 1 juz saja tak hafal². Haditsnya, arba’in nawawiy saja tak tamat². Tak usah jauh, wudhu saja masih belepotan. Sudah petantang-petenteng mendebat ahli ilmu dan menganggap seakan mereka ini jahil. Padahal yg jahil itu yg mendebat.

Tak usah bicara kaidah, sebab sedari awal mereka sdh tak berkaidah. Bagaimana ketawadhuan itu bisa merasuk, jika dalam halaqah saja yg dibahas perkara tinggi yg difahami sendiri tanpa bimbingan para ulama. Bagaimana ilmu bisa mendalam, “magnet”nya saja berupa adab dikesampingkan.

ﻟﻴﺲ ﻣﻨﺎ ﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﺠﻞ ﻛﺒﻴﺮﻧﺎ ﻭ ﻳﺮﺣﻢ ﺻﻐﻴﺮﻧﺎ ﻭ ﻳﻌﺮﻑ ﻟﻌﺎﻟﻤﻨﺎ ﺣﻘﻪ
Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti hak ulama. [Riwayat Ahmad dan dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’].

Kalah mereka oleh para santri di pondok, atau para santri di Kuttab. Mereka mengkaji Ta’lim Muta’allim atau Hilyah Thalibil ‘Ilmi dulu sblm yg lain. Mereka belajar adab dulu sebelum ilmu. Sehingga mereka begitu hormat pada guru, pada orang tua, pada senior, dsb. Bukan jadi aktivis kura² (kuliah rapat-kuliah rapat) yg angkuh tapi rapuh. Miskin adab dan amal. Mengedepankan propaganda dari pengamalan ilmu.

Dahulu para salafushshalih tidaklah demikian. Jika mereka berbuat demikian, dari siapa mereka mengambil adab dan ilmu???

ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻤﺒﺎﺭﻙ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ : “ ﺗﻌﻠﻤﻨﺎ ﺍﻷﺩﺏ ﺛﻼﺛﻴﻦ ﻋﺎﻣﺎً،ﻭﺗﻌﻠﻤﻨﺎ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻋﺸﺮﻳﻦ ” ،
Ibnu Mubarok mengatakan, “Kami mempelajari adab selama 30 tahun, dan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”

ﻭﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺳﺮﻳﻦ : “ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﺘﻌﻠﻤﻮﻥ ﺍﻟﻬﺪﻱَ ﻛﻤﺎ ﻳﺘﻌﻠﻤﻮﻥ ﺍﻟﻌﻠﻢ ” ..
Ibnu sirin berkata, “Dulu kami mempelajari bimbingan adab sebagaimana mempelajari ilmu.”

ﻭﺭﻭﻯ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻤﺒﺎﺭﻙ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﻗﺎﻝ : “ ﻧﺤﻦ ﺇﻟﻰ ﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻷﺩﺏ ﺃﺣﻮﺝ ﻣﻨﺎ ﺇﻟﻰ ﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ”
Ibnu Mubarok meriwayatkan dari Ibnul Hasan, beliau mengatakan, “Kami lebih membutuhkan banyak adab daripada banyaknya hadis”

ﻭﺟﺎﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻴﺮ ﻟﻠﺬﻫﺒﻲ ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻭﻫﺐ ﻗﺎﻝ : ﻣﺎ ﻧﻘﻠﻨﺎ ﻣﻦ ﺃﺩﺏ ﻣﺎﻟﻚ ﺃﻛﺜﺮ ﻣﻤﺎ ﺗﻌﻠﻤﻨﺎ ﻣﻦ ﻋﻠﻤﻪ .
Dalam kitab Siyar A’lam an-Nubala, karya Ad-Dzahabi dari Abdullah bin Wahab, beliau mengatakan, “Apa yang kami catat dari Adab Imam Malik lebih dari apa yang kami pelajari dari ilmunya.”

ﻭﻟﻘﺪ ﻛﺎﻥ ﺃﺋﻤﺔ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﻳﻮﺟﻬﻮﻥ ﻃﻼﺑﻬﻢ ﺇﻟﻰ ﺗﻌﻠﻢ ﺍﻷﺩﺏ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﺨﻮﺽ ﻓﻲ ﻏﻮﺍﻟﻲ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﺍﻟﺨﻼﻑ، ﻓﻬﺬﺍ ﺇﻣﺎﻡ ﺩﺍﺭ
Dan sungguh ulama salaf mengarahkan muridnya untuk mempelajari adab sebelum memasuki ilmu tingkat lanjut dan khilafiyah. Dan ini dilakukan oleh oleh Imam Darul Hijrah (imam Malik) ketika mengatakan kepada pemuda Quraiys, ” Wahai anak saudaraku, pelajarilah Adab sebelum mempelajari Ilmu.”

Yusuf bin Al Husain berkata,
ﺑﺎﻷﺩﺏ ﺗﻔﻬﻢ ﺍﻟﻌﻠﻢ
“Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”

Imam Abu Hanifah berkata,
ﺍﻟْﺤِﻜَﺎﻳَﺎﺕُ ﻋَﻦْ ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﻭَﻣُﺠَﺎﻟَﺴَﺘِﻬِﻢْ ﺃَﺣَﺐُّ ﺇﻟَﻲَّ ﻣِﻦْ ﻛَﺜِﻴﺮٍ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﻔِﻘْﻪِ ﻟِﺄَﻧَّﻬَﺎ ﺁﺩَﺍﺏُ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡِ ﻭَﺃَﺧْﻠَﺎﻗُﻬُﻢْ
“Kisah-kisah para ulama dan duduk bersama mereka lebih aku sukai daripada menguasai beberapa bab fiqih. Karena dalam kisah mereka diajarkan berbagai adab dan akhlaq luhur mereka.” (Al Madkhol, 1: 164)

Dulu sewaktu SMA, saya pernah melihat teman akhawat saya dimarahi habis²an oleh seniornya karena terindikasi “ikhthilat”. Padahal tak sengaja berkerumun dgn para ikhwan yg sedang dibagi hasil ulangan. Jelas saya melihat kemusykilan dari tuduhan senior yg kelewat semangat itu. Ia tak faham batas² ikhthilat seperti apa. Tanpa saya tunda waktu, saya hampiri dengan sopan dan saya katakan padanya,

“‘afwan ukhti, bukankah anti sering turun ke jalan dalam aksi ini dan itu? Jika iya, maka itu telah melanggar batasan Allah dgn ayat wa qarna fii buyuutikunna…’tinggallah kalian di rumah2 kalian!’ Begitu kata Allah.”

“Tapi kan ada udzur ini dan itu.” katanya.

“Kenapa anti minta udzur ini dan itu, anti sendiri tak mau mendengar udzur dan tak mau memberi udzur pada teman saya yg anti marahi tadi? Lagipula anti berlebihan dan tak memahai bayasan ikhthilat itu seperti apa.”

Ia pun terdiam. Saya berlalu mengucap salam. Memang sesekali yg demikian perlu diberi “pelajaran”. Agar ia bisa menahan lisannya sebelum ia mengeluarkan kejahilannya…

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata,

ﻣﻦ ﻋﺪَّ ﻛﻼﻣﻪ ﻣﻦ ﻋﻤﻠﻪ ، ﻗﻞَّ ﻛﻼﻣُﻪ ﺇﻻ ﻓﻴﻤﺎ ﻳﻌﻨﻴﻪ

“Siapa yang menghitung-hitung perkataannya dibanding amalnya, tentu ia akan sedikit bicara kecuali dalam hal yang bermanfaat” Kata Ibnu Rajab, “Benarlah kata beliau. Kebanyakan manusia tidak menghitung perkataannya dari amalannya” ( Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam , 1: 291).

Maka beradablah dgn semestinya, maka ilmu dan agamamu akan terhiasi dengannya! Jangan seperti mereka yg berteriak penegakkan syari’at dalam institusi negara, namun syari’at Allah yg kecil semisal adab saja jadi PR besar bagi mereka…

 

 

Sumber : https://muqrifaqih. blogspot. com/2018/11/adab-lagi.html